Rabu, 17 April 2013

RATIONAL EMOTIVE THERAPHY


    A. Konsep Dasar
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional. Orang berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negative seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dsb. Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebaskan dirinya dari gangguan emosional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang bertanggung jawab akan semua perilakunya.

B. Tokoh
Albert Ellis, merupakan tokoh teori RET ini. Pada mulanya Ellis mendapat pendidikan dalam psikoanalisa, akan tetapi dalam pengalaman prakteknya ia merasa kurang meyakini psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang kemudian disebut rasional-emotif terapi.
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah: pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih dalam prakteknya kedua hal itu saling berkaitan. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi orang tersebut, dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.

C. Tujuan Konseling Rasional-Emotif
       Berdasarkan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta konsep-konsep teoritik dari RET, tujuan utama konseling rasional-emotif adalah sebagai berikut: 

1.Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
2.Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Sebagai konseling dari cara berfikir keyakinan yang keliru berusaha menghilangkan dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.

D. Teknik-Teknik Terapi
       Terapi rasional-emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa macam teknik yang dipakai dalam rasional-emotif:
1.Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
2.Sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan, ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
3.Self Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
4.Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.

E. Karakteristik Terapi Rational Emotive           
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.Aktif-direktif: bahwa dalam hubungan konseling, terapis/ konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b.Kognitif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c.Emotif-eksperiensial: bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d.Behavioristik: bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.
e.Kondisional: bahwa hubungan dalam RET dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi konseling. 

F. Peran Terapi dan Klien
Berikut merupakan gambaran yang harus dilakukan oleh seorang praktisi rasional-emotif yaitu: 

a.Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan prilaku.
b.Menantang konseli dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
      c.Menunjukan kepada konseli azas ilogis dalam berpikirnya.
d.Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional konseli.
e.Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah “in-operative” dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.
f.Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasional pemikiran klien.
g.Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan kembali atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik melatarbelakangi kehidupannya.

G. Kelebihan dan Kelemahan Rational Emotif Therapy

Kelebihan Rational Emotif Therapy
a.Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien.
b. Para klien bisa memperoleh sejumlah besar pemahaman dan akan menjadi sangat sadar akan sifat
masalahnya.
c.Kaedah berfikir logis yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi masalah
yang lain.
d.   Klien merasa dirinya mempunyai keupayaan intelaktual dan kemajuan dari cara berfikir.

Kelemahan Rational Emotif Therapy
a.   Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logis dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu cerdas otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika.
b.   Ada sebagian klien yang begitu terpisah dari realitas sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.
c. Ada juga sebagian klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya dalam hidupnya, dan tidak mau berbuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka.
d. Terapis yang tidak terlatih memandang terapi sebagai “pencecaran” klien dengan persuasi, indoktrinasi logika dan nasehat.

DAFTAR PUSTAKA
Elis, A. 1994. Reason and emotion in psychotherapy (edisi kedua). New York: Birch Lane Press. 
Corey G., 1991, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto), IKIP Semarang Pres.
Semiun. Y. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta : Kanisius Anggota IKAPI



Analisis Traksaksional


ANALISIS TRANSAKSIONAL

  Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan psikoteraputik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis dan merupakan pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, serta mengubah saling pengaruh diantara manusia, yang menekankan iteraksi keduanya (antara diri sendiri dan manusia lain ) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri)
  AT dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Pada dasarnya teori analisis transaksional berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan- perasaannya.

  • Konsep-Konsep Utama

  Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.

  Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).

  • Tujuan Terapi Analisis Traksaksional

  Tujuan utama dari AT adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang berhubungan tingkah lakunya saat ini dan arah hidupnya. Sedangkan sasaranya adalah mendorong klien agar menyadari, bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh keputusan awal mengenai posisi hidupnya serta pilihan terhadap cara-cara hidup yang stagnan dan deterministik.

  • Fungsi dan Peran Terapis

  Memberikan gambaran peran terapis, seperti seorang guru, pelatih atau nara sumber dengan penekanan kuat pada keterlibatan. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Selanjutnya peran terapis yaitu membantu klien untuk membantu klien menemukan suasana masa lampau yang merugikan dan menyebabkan klien membuat keputusan-keputusan awal tertentu, mengindentifikasikan rencana hidup dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakannya dalam menghadapi orang lain yang sekarang mungkin akan dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif untu menjalani kehidupan yang lebih otonom.

  Terapis memerlukan hubungan yang setaraf dengan klien, menunjuk kepada kontrak terapi, sebagai bukti bahwa terapis dan klien sebagai pasangan dalam proses terapi. Tugas terapi adalah, menggunakan pengetahuannya untuk mendukung klien dalam hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas diprakarsai oleh klien. Konselor memotivasi dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego Orang Dewasanya sendiri ketimbang ego Orang Dewasa konselor dalam memeriksa keputusan–keputusan lamanya serta untuk membuat keputusan-keputusan baru.

  • Hubungan Konselor Dengan Klien

Pelaksanaan terapi AT beradasarkan kontrak, kontrak tersebut menjelaskan keinginan klien untuk berubah, di dalam kontrak berisi kesepakatan-kesepakatan yang spesifik, jelas, dan ringkas. Kontrak menyatakan apa yang dilakukan oleh klien, bagaimana klien melangkah ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya dan kapan kontrak tersebut akan berakhir. Kontrak dapat diperpanjang, konselor akan mendukung dan bekerja sesuai kontrak yang telah menjadi kesepakatan bersama. Pentingnya keberadaan kontrak, karena umumnya dalam terapi, klien seringkali keluar dari kesepakatan awal. Menyimpang, cenderung memunculkan masalah-masalah baru, bersikap pasif, dan dependen akibatnya proses penyembuhan membutuhkan tambahan waktu. Dengan adanya kontrak maka kewajiban tanggungjawab bagi klien semakin jelas, membuat usaha klien untuk tidak keluar pada kesepakatan dan komitmen untuk penyembuhan tetap menjadi perhatian, maka klien menjadi fokus pada tujuan-tujuan sehingga proses penyembuhan akan semakin cepat.

  Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konselor ketika membangun hubungan dengan klien; Pertama, tidak ada kesenjangan pemahaman antara klien dan konselor yang tidak dapat jembatani. Kedua, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam terapi, artinya klien memiliki hak untuk menyimpan atau tidak mengungkapkan sesuatu yang dianggap rahasia. Ketiga, kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.

  • Teknik dan Prosedur Terapi

  Untuk melakukan terapi dengan pendekatan AT treatment individu-individu dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis transaksional, menurutnya fase permualaan AT sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan pada peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT beserta tekniknya sangat relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun demikian penerapan pada individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh, bila digunakan dengan pendekatan kelompok. Pertama, berbagai ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. Kedua, karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok bisa dialami. Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang bersifat alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat, konfrontasi permainan yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.

Prosedur pada AT dikombinasikan dengan terapi Gestalt, dia menggabungkan konsep dan prosedur AT dengan eksperimen Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;

  1. Analisis struktural, para klien akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan ego-nya, ini dapat membantu klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat menghambat dan membantu klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
  2. Metode-metode didaktik, AT menekankan pada domain kognitif, prosedur belajar-mengajar menjadi prosedur dasar dalam terapi ini.
  3. Analisis transaksional, adalah penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu sama lain, sesuatu yang terjadi diantara orang-orang melibatkan suatu transaksi diantara perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan diharapkan ada respon. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung.

  • Kelemahan dan Kelebihan Dalam Pendekatan Analisis Transaksional

Kelebihan Menurut Gerald Corey :
  1. Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.
  2. Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
  3. Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain.
  4. Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Kelemahan Gerald Corey :
  1. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.
  2. Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
  3. Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya
  4. Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

 DAFTAR PUSTAKA

Corey.G.1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Eresco

Mustafa, M. Sharif. (2006). Tori dan Praktis Konseling Kelompok Kontemporari. Malaysia-University Teknologi Malaysia.

Kamis, 28 Maret 2013

Person Centered Therapy


PERSON CENTERED THERAPY

Carl Rogers (1902-1987) adalah seorang psikolog humanistik yang berfokus pada hubungan terapeutik dan mengembangkan metode baru terapi yang berpusat pada klien atau Person Centered Therapy. Dimana Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah “klien” buka “ pasien”. Terapi berpusat pada klien ini berfokus pada peran klien, bukan ahli terapi sebagai kunci proses penyembuhan. Menurut Rogers, klien benar-benar berupaya untuk sembuh dan dalam hubungan ahli terapi klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri.

·      Konsep Utama
Berdasarkan pengalaman klinisnya Roger telah sampai kepada keyakinan dasar filosofis bahwa organisme manusia pada hakekatnya mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Hal ini mencakup tiga konsep yang diidentifikasi oleh Rogers :
1. Rasa hormat yang positif dan tidak bersyarat, suatu kepedulian terhadap klien yang tidak menghakimi dan tidak bergantung pada perilaku klien
2.  Ketulusan atau sikap apa adanya, atau kesesuaian antara apa yang ahli terapi rasakan dan kataka kepada klien.
3.  Sikap memahami dan emapati, ahali terapi merasakan perasaan dan makna personal dari klien dan menyampaikan pemahaman ini kepada klien.

·      Tujuan Person Centered Therapy
Tujuan utamanya adalah mengembalikan klien kepada kehidupan perasaan dan mendorongnya untuk menemukan feeling self-nya yang asli. Membantu klien agar mampu membiarkan kehidupan perasaan-perasaannya tanpa halangan dan dapat mensimbolisasikan pengalaman-pengalamannya dalam sebuah konsep diri yang lebih memadai. Dengan kata lain membantu mengembangkan semaksimal mungkin feeling self-nya, sehingga lebih luas, memadai, dan sesuai dengan perasaan dan pengalaman-pengalaman organismiknya. Dengan demikian klien dapat lebih kongruen, otentik, dan terbuka. Mampu menjadi pribadi yang kuat, unik dan ekspresif. Mampu menyelesaikan masalahnya sendiri secara mandiri, berfungsi lebih efisien, memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Dan mampu mewujudkan suatu pribadi yang berfungsi sepenuhnya.

·      Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi dan peran terapis adalah perlunya menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan klien mampu menemukan konsep dirinya yang benar yang sepadan dengan kodratnya. Proses perkembangan yang harus dimulai dan dibangkitkan sendiri oleh klien, sedangkan terapi hanyalah katalisator dan fasilitator yang mempermudah proses perkembangan tersebut, melalui penciptaan relasi khusus yang memungkinkan klien mengubah sikap-sikap palsu yang telah dipeajari, sehingga secara bertahap dapat berkembang sebagai pribadi yang utuh dan otentik.
Konsekuensinya, terapis tidak boleh menciptakan relasi kekuasaan yang dapat menjadikan anak menjadi bergantung. Tidak boleh bersikap “direktif” dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan diagnosis, memberi nasehat-nasehat dan penilaian eksternal. Tidak boleh mengontrol, memandang klien sebagai “objek” dan banyak memberikan penafsiran. Sebaliknya, terapis harus mampu mengembangkan sikap emphatik, dengan masuk didalam dunia subjektif dan keunikan pribadi klien.
Peran utama teapis adalah membantu menyesuaikan konsep diri anak dengan seluruh pengalamannya agara pengalaman tersebut tidak dialami sebagai ancaman terhadap konsep dirinya, tetapi sebagai suatu yang dapat diintegrasikan dalam sebuah konsep diri yang lebih luas.

·      Proses dan Tehnik Terapi Person Centered Therapy
    1. Konselor haruslah seorang yang kongruen dan terintegrasi dalam relasinya. Artinya, konselor      harus mampu memiliki keberanian untuk menampilkan dirinya yang asli, otentik, tulen, jujur, tulus, polos, terbuka, sunguh-sungguh, dan terintegrasi terhadap kliennya. Sehingga klien benar-benar merasa diterima sebagai pribadi apa adanya .
    2. Adanya pemberian penghargaan positif tanpa syarat kepada klien oleh terapis, yang berarti ada sikap menerima, perhatian yang simpatik, penghormatan, dan sikap penghargaandan permasalahan yang dialami.
    3.  Kemampuan terapis untuk memahami ecara emphatik dunia pengalaman batin anak. Memahami secara emphatik, hakekatnya adalah upaya untuk berada pada kondisi yang sama dengan pribadi anak dalam rangka penyadaran dan perubahan pribadi anak. Caranya dapat dilakukan dengan mendengarkan anak dengan hati terbuka dan penuh perhatia, mmemasukkan diri afektif dan kognitif ke dalam dunia pengalaman eksistensial anak sebagaimana dirasakan anak.

·      Kelebihan dan Kekurangan Person Centered Therapy
    Pendekatan Person Centered Therapy dengan berbagai cara memberikan sumbangan-sumbangan kepada situasi-situasi konseling individual maupun kelompok atau dengan kata lain memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
  1. Memberikan landasan humanistik bagi usaha memahami dunia subyektif klien, memberikan  peluang yang jarang kepada klien untuk sungguh-sungguh didengar dan mendengar. 
  2. Mereka bisa menjadi diri sendiri, sebab mereka tahu bahwa mereka tidak akan di evaluasi dan dihakimi. 
  3. Mereka akan merasa bebas untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru. 
  4. Mereka dapat diharapkan memikul tanggung jawab atas diri mereka sendiri, dan merekalah yang memasang langkah dalam konseling. 
  5. Mereka yang menetapkan bidang-bidang apa yang mereka ingin mengeksplorasinya di atas landasan tujuan-tujuan bagi perubahan. 
  6. Terapis bertindak sebagai cermin, mereflesikan perasaan-perasaan kliennya yang lebih dalam.
Adapun kelemahan pendekatan Person Centered Therapy terletak pada beberapa hal berikut ini:
  1. Cara sejumlah terapis menyalah tafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi klien. 
  2. Tidak semua konselor bisa mempraktekan terapi Person Centered Therapy, sebab banyak konselor yang tidak mempercayai filsafat yang melandasinya. 
  3. Membatasi lingkup tanggapan dan gaya konseling mereka sendiri pada refleksi-refleksi dan mendengar secara empatik. 
  4. Adanya jalan yang menyebabkan sejumlah terapis menjadi terlalu terpusat pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik.

Referensi :
  • Duane. Schultz. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : Kanisius (Anggota IKAPI) 
  • Goble. G. Frank. 1987. Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta : Kanisius (Anggota IKAPI)